Monday, February 19, 2007

Virus H5N1, MTA dan Baxter

oleh Ari Juliano Gema

Saya membaca berita diberbagai media katanya Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari menolak untuk mengirimkan spesimen virus flu burung atau Virus H5N1 asal Indonesia kepada World Health Organization (WHO) ataupun negara lain yang ingin menelitinya. Alasannya, Ibu Menteri khawatir kalau dari Virus H5N1 yang dikirim kepada WHO atau negara lain itu nantinya berhasil dibuat vaksin, vaksin itu akan dijual ke Indonesia dengan harga yang tidak terjangkau oleh masyarakat Indonesia.

Untuk itu, menurut Ibu Menteri, Indonesia hanya mau mengirimkan spesimen Virus H5N1 itu apabila pengirimannya dilengkapi dengan material transfer agreement (MTA). Dengan adanya MTA itu, maka WHO ataupun negara penerima spesimen virus itu hanya akan diberikan hak menggunakannya untuk kegiatan penelitian, dan tidak untuk dikomersilkan.

Tentang MTA

Pada dasarnya, saya sependapat dengan pendirian Indonesia seperti yang disampaikan oleh Ibu Menteri. Alasan yang dikemukakan Ibu Menteri itu sudah sejalan dengan kebijakan penelitian dan pengembangan nasional sebagaimana tertuang dalam UU No. 18 Tahun 2002 tentang Sistem Nasional Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (UU Sislitbangnas). Dalam UU itu diatur bahwa kerjasama internasional dalam rangka kegiatan penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dilaksanakan atas dasar persamaan kedudukan yang saling menguntungkan dengan tidak merugikan kepentingan nasional.

Syarat yang diajukan pemerintah Indonesia untuk menyertakan MTA apabila WHO atau negara lain ingin mendapatkan spesimen Virus H5N1 adalah hal yang wajar. Seharusnya WHO ataupun negara lain tidak perlu mempermasalahkan hal itu kalau memang penggunaan spesimen virus itu benar-benar untuk penelitian semata.

MTA sudah biasa digunakan sebagai kesepakatan antara dua organisasi yang mengatur pengalihan bahan riset (research materials), dimana organisasi penerima berniat menggunakan bahan riset itu untuk keperluan penelitiannya. MTA mengatur hak dan kewajiban dari organisasi pemberi dan organisasi penerima atas bahan riset itu.

Ada beberapa isu penting yang biasanya diatur dalam MTA, yaitu, pertama, masalah kerahasiaan (confidentiality) segala informasi berkaitan dengan bahan riset. Para pihak wajib memperhatikan ketentuan mengenai kerahasiaan ini apabila bermaksud mempublikasikan bahan riset maupun hasil penelitian atas bahan riset tersebut. Hal ini penting apabila para pihak bermaksud mendapatkan paten atas hasil penelitian tersebut. Apabila hasil penelitian itu dipublikasikan tanpa memperhatikan ketentuan tentang paten, maka bisa jadi hal itu akan mengurangi unsur kebaruan (novelty) dari hasil penelitian itu yang merupakan salah satu syarat suatu invensi dapat didaftarkan sebagai paten.

Kedua, apakah bahan riset itu boleh diberikan juga kepada pihak lain yang terafiliasi. Biasanya, suatu lembaga penelitian berafiliasi dengan lembaga penelitian lain dalam melakukan suatu penelitian, karena mungkin adanya keterbatasan fasilitas penelitian atau sumber daya manusia. Ketiga, definisi dari bahan riset yang dialihkan itu harus jelas, apakah meliputi juga modifikasi atau pengembangan dari bahan riset itu. Apabila organisasi pemberi mengklaim kepemilikan atas modifikasi atau pengembangan dari bahan riset itu, maka organisasi pemberi dapat memiliki juga hasil penelitian yang dilakukan oleh organisasi penerima atas bahan riset itu.

Keempat, hak kekayaan intelektual (HKI) yang mungkin timbul dari hasil penelitian itu harus jelas dimiliki oleh siapa. Hal ini penting agar tidak terjadi sengketa dikemudian hari berkenaan dengan kepemilikan HKI atas hasil penelitian tersebut. Kelima, biasanya suatu penelitian membutuhkan beberapa bahan riset dari beberapa organisasi pemberi berdasarkan beberapa MTA, oleh karena itu perlu berhati-hati dalam pengaturan pada masing-masing MTA agar tidak terjadi konflik antara satu MTA dengan MTA yang lain.

MoU Depkes RI - Baxter

Menurut siaran pers yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan RI (Depkes RI), pada tanggal 7 Pebruari 2007 telah ditandatatangani Nota Kesepahaman (MoU) antara Depkes RI cq. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) dan Baxter Healthcare SA (afiliasi dari Baxter International Inc. USA), sebuah perusahaan dibidang penelitian, pengembangan dan pembuatan vaksin. Dalam MoU itu diatur bahwa Balitbangkes akan menyediakan spesimen Virus H5N1 dan Baxter akan melakukan alih teknologi yang meliputi formula, pengisian dan penyelesaian vaksin flu burung kepada Balitbangkes.

Dalam MoU itu juga diatur bahwa Indonesia akan mempunyai hak untuk memproduksi dan memasarkan vaksin flu burung itu di seluruh Indonesia dan mengekspornya ke negara lain. Produksi vaksin flu burung itu akan dilakukan dengan mitra produsen vaksin Indonesia yang ditunjuk oleh Depkes RI. Depkes RI memilih Baxter sebagai mitra kerjasama penelitian karena pengalaman yang dimiliki Baxter. Pada awal tahun 2006, Baxter berhasil mengembangkan vaksin flu burung dengan menggunakan virus flu burung yang berasal dari Vietnam.
Saya berharap dalam kerjasama dengan Baxter itu kepemilikan HKI atas hasil penelitian tersebut berada di tangan Pemerintah RI. Percuma saja apabila Pemerintah RI diperbolehkan untuk melakukan segala hal atas hasil penelitian itu, namun HKI-nya dimiliki oleh Baxter. Dengan HKI ditangan Baxter, Baxter akan punya kekuasaan lebih besar untuk mengeksploitasi hasil penelitian itu secara komersil. Bahkan mungkin saja suatu hari nanti Baxter akan menghentikan segala hak yang diberikan kepada Pemerintah RI berkaitan dengan hasil penelitian tersebut apabila hal ini tidak diperjanjikan dengan baik.

1 Comments:

At 8/10/08 07:12, Anonymous Anonymous said...

(Dikutip dari: materi Strategic Forum – QPlus Management Strategies 2008)

Strategi Filsafat Penelitian Milenium III
(Butanya Dasar Belajar Mengajar: Theory of Everything)
Oleh: Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. MEREKA (para peneliti – QZ) seakan-akan pelukis yang mengumpulkan tangan, kaki, kepala dan anggota-anggota lain bagi lukisannya dari macam-macam model. Masing-masing bagian dilukis dengan sangat bagus, tetapi tidak dihubungkan dengan satu tubuh sendiri, dan karena sama sekali tidak akan cocok satu sama lain, hasilnya akan lebih merupakan monster daripada manusia (Nicolas Copernicus).

APAKAH (ilmu) pengetahuan yang terkumpul, dipelajari, dimiliki dan diajarkan selama ini masih berupa monster? Bayangkan sosok gambaran seluruh (ilmu) pengetahuan semesta yang berserakan. Lebih kecil lagi, seluruhnya di satu pustaka. Lebih kecil lagi, di satu cabang ilmu. Lebih kecil lagi, di satu bidang ilmu. Lebih kecil lagi, satu hal sosok gambaran tentang semut, puisi, manajemen atau jembatan saja, terdiri atas potongan kacau banyak sekali. Potongan-potongan tulisan sangat bagus sampai buruk, jelas sampai kabur, dan benar sampai salah besar, yang tak menyatu, tumpang tindih dan bahkan saling bertentangan meski hal yang sama sekalipun. Ini membuat sulit siapa pun meneliti, belajar dan mengajarkan, ditandai dengan polemik panjang.

Mengapa bisa demikian? Ada analogi menarik cerita lima orang buta ingin mengetahui tentang seekor gajah, yang belum pernah tahu gambaran binatang itu. Selain buta, tubuh mereka berbeda-beda tinggi badannya. Mereka pun berbaris berjajar, menghadap seekor gajah besar yang di keluarkan pemiliknya dari kandang. Orang yang pertama agak tinggi badannya, maju meraba bagian depan memegang belalai dan mengatakan gajah itu seperti ular. Yang kedua sedang badannya, meraba mendapati bagian kaki dan mengatakan gajah seperti pohon kelapa. Yang ketiga tinggi badannya, memegang bagian kuping dan mengatakan gajah seperti daun talas. Yang keempat paling pendek badannya, maju di bawah perut gajah tidak memegang apa-apa dan mengatakan gajah seperti udara. Yang kelima pendek tubuhnya, maju meraba bagian belakang memegang ekor dan mengatakan gajah itu seperti pecut. Tentu, pemahaman gajah sesungguhnya dari kelima orang buta ini akan berbeda bila disodorkan gambar ukiran timbul atau patung kecil seekor gajah sebelumnya.

Seperti itulah, siapa pun yang hanya memahami satu sudut pandang cabang (ilmu) pengetahuan sebagai gambaran pemecahan suatu masalah, tanpa luasan pandang menyeluruh (ilmu) pengetahuan. Memang, merupakan hukum alam segala sesuatu yang seragam (besar sedikit jumlahnya) makin lama makin beragam (kecil banyak jumlahnya), dan pada tingkat kekacauan dibutuhkan sistem keteraturan untuk memahaminya sebagai satu kesatuan. Tetapi, nampak (hampir) mustahil (karena tenaga, waktu dan biaya terbatas) mempelajari seluruh cabang (ilmu) pengetahuan mendapatkan pemahaman luas dan dalam semesta untuk suatu masalah. Betapa beruntung dunia andai sosok kecil gambaran satu kesatuan the body of science itu ada. Gambaran rangkuman prinsip-prinsip satu kesamaaan semua hal dari sekian banyak perbedaan dalam semesta, sebuah Theory of Everything (TOE).

JIKA Anda tahu bagaimana alam semesta ini bekerja, Anda dapat mengaturnya (Stephen William Hawking).

Kemudian, bagaimanakah mengetahui seseorang (dan juga diri sendiri) sebenarnya tergolong buta (karena tanpa TOE) terhadap sosok (ilmu) pengetahuan dimiliki sekarang?

Dengan sopan dan rendah hati, semua peneliti, pengajar atau siapa pun bidang apa pun harus menanyakan: Apa prinsip dasar asumsi penelitian, belajar dan mengajar (ilmu) pengetahuan yang diteliti, dimiliki atau diberikan? Jika jawaban berupa kalimat retorika atau basa-basi, mungkin ia (dan kita) tergolong masih buta tentang the body of science hal bidang ilmu pengetahuan itu.

Lalu, apa rangkuman (kecil) prinsip dasar asumsi TOE dalam meneliti, belajar, mengajar dan mengelola ilmu pengetahuan hal apa pun?

KETIDAKMAMPUAN seseorang untuk menjelaskan idenya secara singkat, barangkali dapat merupakan tanda bahwa dia tidak mengetahui pokok persoalan secara jelas (C. Ray Johnson).

Ilmu pengetahuan (obyek empiris) dinyatakan benar ilmu pengetahuan selama asumsi dasar diakui, yaitu ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang teratur (systematic knowledge) (pernyataan yang diterima setelah abad XVII) (The Liang Gie, 1997:380). Tanpa asumsi dasar keyakinan adanya keteraturan ini, proses meneliti, belajar mengajar apa pun yang di bangun di atasnya hanyalah potongan-potongan pengetahuan yang tidak efektif, efesien dan produktif. Seperti pernyataan jernih ilmuwan Carl Sagan, bahwa jika kita hidup di atas sebuah planet di mana segala sesuatu tidak pernah berubah, sedikit sekali yang bisa dikerjakan. Tidak ada yang harus dibayangkan, dan tidak akan ada dorongan untuk bergerak menuju ilmu pengetahuan. Namun jika kita hidup di dalam dunia yang tidak bisa diramalkan di mana semua hal berubah secara acak atau dengan cara sangat rumit, kita juga tidak akan bisa menggambarkan semua keadaan. Di sini juga tidak ada ilmu pengetahuan. Tetapi kita hidup di dalam semesta yang berada di kedua keadaan ini. Di alam ini semua keadaan berubah, tetapi mengikuti pola, aturan, atau mengikuti yang kita katakan sebagai hukum-hukum alam.

Lebih jelas, prinsip dasar asumsi keteraturan ini diurai Jujun S. Suriasumantri (1977:7-9) dengan baik, yaitu obyek empiris (tertentu) itu serupa dengan lainnya seperti bentuk, struktur, sifat dan lain-lain, lalu (sifat) obyek tidak mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu (meski pasti berubah dalam waktu lama yang berbeda-beda), serta tiap gejala obyek bukan bersifat kebetulan (namun memiliki pola tetap urutan sama atau sebab akibat). Akhirnya, saya memastikan rincian prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan ini dalam TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Science, bahwa definisi ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang memiliki susunan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang teratur. (Teratur pada TQZ Scientific System of Science adalah teratur sama dalam fungsi, jumlah, urutan, kaitan, dan paduan menyeluruh di semesta meski hal berbeda apa pun). Sebuah TOE, jawaban masalah dasar dan besar yang menghantui pikiran manusia selama dua ribu tahun atau dua millennium.

TEORI adalah sekelompok asumsi masuk akal dikemukakan untuk menjelaskan hubungan dua atau lebih fakta yang dapat diamati, menyediakan dasar mantap memperkirakan peristiwa masa depan (JAF Stoner).

TOE penting sekali dalam meneliti, belajar mengajar dan mengelola bidang apa pun. Memecahkan suatu masalah sulit, tetapi mengenali (fenomena) masalah lebih sulit lagi. Dengan mengetahui dan memahami TOE, sangat membantu mengenali bila berhadapan atau merasakannya. Misal, seseorang telah disodorkan gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan akan lebih mudah untuk mengambil kesimpulan jika suatu saat menghadapi (fenomena) satu atau banyak masalah, meski belum pernah dikenalnya. Jadi, fungsi TOE – pada TQZ Scientific System of Science tak lain sebuah paradigma scientific imagination benchmarking sistematis, berupa metode synectic kreatif menggunakan metafora dan analogi rinci menuntun suatu usaha memilih jalur proaktif terhadap suatu hal dengan memperhatikan fakta dan kemungkinan yang telah diidentifikasi dan dileluasakan, dengan lima dasar (posisi), fase (kualitas) dan level (sempurna). Suatu mental image atau model ilmiah analogi fenomena semesta dalam bentuk keteraturan yang dapat dipahami.

Contoh sederhana (meski sebagai TOE belum cukup teratur), jika gambaran prinsip dasar asumsi keteraturan tubuh mahluk hidup sempurna memiliki kepala, dada, perut, tangan dan kaki, sedang lainnya berupa bagian tambahan tubuh. Maka, seseorang yang meyakini dan memahami keteraturan ini akan melihat persamaan fungsi tubuh pada ikan gabus, kupu-kupu, monyet, ular dan burung pipit, selain perbedaan bagian itu. Dengan prinsip dasar asumsi keteraturan itu, tubuh mahluk hidup akan lebih mudah diteliti, pelajari dan diajarkan dengan benar, bahkan terhadap mahluk hidup unik lain yang baru dilihat.

KARYA seorang ilmuwan berlandaskan keyakinan bahwa alam pada pokoknya teratur. Bukti yang menunjang keyakinan itu dapat dilihat dengan mata telanjang bukan hanya pada pola sarang lebah atau pola kulit kerang, tetapi ilmuwan juga menemukan keteraturan pada setiap tingkat kehidupan (Henry Margenau).

Bukti monster (ilmu) pengetahuan demikian besar, merugikan dan banyak di sekeliling. Contoh monster-monster itu, dalam seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah di mana-mana tidak menyuguh keteraturan. Misal, bahasan mencipta puisi, cara menulis, atau mendefinisikan sesuatu saja, tanpa jelas kepala, tangan, badan, perut, dan kakinya, bahkan tanpa memastikan yang dijelaskan itu adalah bagian kaki atau kepala. Atau lebih parah lagi, tidak diketahui apakah yang disajikan itu kaki, jari, atau gigi, karena jumlahnya demikian tidak tetap dan berbeda. (Perhatikan kesimpulan utama penyebab masalah dan pemecahannya bidang ilmu hal yang sama sekali pun, bisa satu, dua, tiga, empat, lima, enam, sembilan, tujuhbelas, limapuluhdua, dan seterusnya, belum lagi bicara keteraturan urutan dan kaitan antar penyebab atau antar pemecahan yang disebutkan itu). Apalagi membahas masalah mengenai cara mengatasi krisis pangan, krisis energi atau strategi keunggulan usaha (suatu organisasi, daerah, bahkan negara), pasti monster lebih mengerikan.

Contoh nyata monster raksasa, menunjukkan belum teraturnya kelompok ilmu sebagai ilmu pengetahuan. Deobold B. Van Dalen menyatakan, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam yang telah mengalami perkembangan yang sangat pesat, ilmu-ilmu sosial agak tertinggal di belakang. Beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa ilmu-imu sosial takkan pernah menjadi ilmu dalam artian yang sepenuhnya. Di pihak lain terdapat pendapat bahwa secara lambat laun ilmu-ilmu sosial akan berkembang juga meskipun tak akan mencapai derajat keilmuan seperti apa yang dicapai ilmu-ilmu alam. Menurut kalangan lain adalah tak dapat disangkal bahwa dewasa ini ilmu-ilmu sosial masih berada dalam tingkat yang belum dewasa. (Ilmu dalam Persfektif, Jujun S. Suriasumantri, 1977:134). Juga C.A. Van Peursen, dalam tahap perkembangan ilmu pengetahuan kemajuan bidang ilmu alam lebih besar daripada ilmu kehidupan, dan ilmu kehidupan lebih maju dari ilmu kebudayaan (Strategi Kebudayaan: 1976:184-185). Sedang di dunia akademi, berjuta-juta hasil penelitian seluruh dunia kurang berguna dan sukar maju karena berupa monster maha raksasa, tanpa TOE yang merangkai sebagai satu kesatuan the body of science.

Akhirnya, bagaimana mungkin (manusia) siapa pun yang terlibat proses meneliti, belajar, mengajar dan menggunakan ilmu pengetahuan sepanjang hidup dapat berpikir tenang, selama prinsip dasar asumsi keteraturan (ilmu) pengetahuannya belum beres? Sebab, jika prinsip dasar asumsi keteraturan ilmu pengetahuan yang didapat dan diberikan saja kebenarannya meragukan, maka kredibilitas kemampuan, nilai, gelar (dan status) seseorang (dan organisasi) itu pun diragukan. Karena, sebenar atau setinggi apa pun nilai memuaskan didapat dari pendidikan dengan pelajaran bahan yang buruk atau salah, tetaplah buruk atau salah, (setelah mengetahui bagaimana kebenaran suatu hal itu) sebenarnya. Dan, tanpa keteraturan TOE, penelitian dan belajar mengajar, seminar dan diskusi, buku dan makalah, ulasan dan kritikan berbagai masalah terus menghasilkan monster di mana-mana. Banyak buang tenaga, waktu dan biaya percuma. Fatal dan mengerikan.

LEBIH baik menjadi manusia Socrates kritis yang tidak puas, daripada menjadi babi tolol yang puas (Henry Schmandt).

BAGAIMANA strategi Anda?
*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

 

Post a Comment

Links to this post:

Create a Link

<< Home